Writen by me

21.58 0 Comments


Kisahku di Jogja

                Oleh: Yohanes A Deo .H
Kisahku dimulai pada saat liburan akhir sekolah tahun lalu. Kami sekeluarga akan berlibur ke jogja, ke rumah kakek dan nenekku. Seperti biasa sebelum berangkat pastinya kami bersiap-siap membereskan hal-hal yang akan digunakan selama berada “disana”. Kami akan berada di sana selama kurang lebih semingguan (sebnarnya enggak sampe sih....). Jauh-jauh kami juga sudah membeli tiket bus. Saya lebih suka berpergian naik bus, entah mengapa, kalo naik bus bawaannya gimana....gitu?! Hehehe. Seneng aja bisa bertemu orang-orang banyak dengan tujuan yang sama namun beda. Hehehe “lagi”. Selesai beres-beres kami berangkat, perjalana kami dimulai pada pukul 18.00 WIB.
Sembari menunggu bus yang akan kami naiki tiba, kami memutuskan bersantap sore terlebih dahulu, disalah satu “restoran padang XXX” (disensor nanti dikira promosi, hehehe......). Asiknya bersantap sambil ditemani sinema kartun favorite saya; “Naruto” (udah gede tontonannya KARTUN !!) “kebetulan saja”. “Perut sudah terpenuhi kapasitasnya” kami pun kembali menunggu, tak lama bus yang kami akan naiki pun tiba. Kami langsung naik kedalamnya dan menaruh tas kami masing-masing diatas tempat duduk. Pukul 18.30 WIB, saat matahari sudah mau berangkat ke praduan (CAAHH ELAH puitis banget!), kami pun berangkat. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, saya habiskan didalam bus, sambil mendengarkan musik, yang tiada hentinya menemaniku. Hingga tak terasa bulan sudah beranjak meninggi di langit, waktu pada jam tangan saya menunjukan pukul 20.00 WIB. Bapak supir pun memutuskan untuk beristirahat, kami pun berhenti disebuah restoran makan pinggir jalan. Sedikit keblinger saat turun dari bus. Mungkin, karena didalam bus terlalu banyak guncangan sehingga otakku juga ikut “terguncang” (bukan gila ya.....).
Seturunnya dari bus saya langsung beranjak kekamar kecil, dengan begitu cepatnya saya sampai di kamar kecil. Maklum udah kebelet dari tadi... Karena kami masih berada di daerah sekitar jawa barat, jadi logat-logat sunda sering sekali tedengar disana-sini. Usai buang air kecil, saya merasa terkejut!!! Karena ayah, ibu, dan adik saya sedang asiknya menyantap sesuatu makanan/minuman.....yang entahlah namanya, yang kelihatanya menggugah selera, dengan air jahe yang menghangatkan.....dicampur dengan potongan roti berbentuk dadu, dan masih banyak lagi campurannya.....(Eeeeeee.....ngecesdeh). Aku pun akhir juga bergabung.... hehehe.....Enyakkkk........
Setelah beristirahat perjalanan pun kami lanjutkan, selama perjalanan tidak ada yang unik.... sorry ya.....jadi tak ada yang bisa aku ceritakan..Tak terasa bulan sudah berada pada tempat tertingginya. Mata pun sudah tak kuat untuk “berjaga”, tak beberapa lama aku sudah pules....(YAHHH payah nih....) tiba-tiba aku merasa dalam pikiran alam bawah sadarku...(Lebayyy..) bahwa bus berhenti secara mendadak di tepi jalan. Ku kira ada sesuatu hal yang “Gaswat”, ternyata mesin bus kami tumpangi sedang mengalami beberapa kendala. Memang hal yang gawat sihh, tapi gak gawat-gawat banget. Kami berada di tepi jalan tersebut sekitar setengah jam lamanya.
Akhirnya mesin pun kembali dapat menyala, langsung saja tanpa berbasa-basi bapak supir menginjak pedal gas yang terdapat tepat dibawah stir. Bus pun melaju...... detik demi detik, menit demi menit,.......(udah ahhh bawel)(iya...iya....). Mataku pun mulai terpejam kembali (emang dasar mata payah. Dah ya bobo dulu.....dahhh......)
Matahari pun menyapaku dari ufuk timur dengan cerianya. Aku pun terbangun. Oh ya ada satu hal yang paling tidak nikmat saat naik bus...; abis bangun tidur tuh pasti pegel-pegel gak enak gimana........gitu. Pada saat itu posisi kami sudah bereda masuk dalam kawasan yogyakarta. Tak terasa setengah jam kami pun sampai. Kami melanjuntkan perjalanan kembali dari terminal ngeplang dengan menyarter sebuah angkutan. Semilir angin menerpa seluruh wajah dan setiap helai rambutku.
“Oh sejuknya udara pedesaan” bicaraku dalam batin.
Sesampai di tempat yang dari awal kami tuju, yang bukan lain adalah rumah nenek dan kakekku.
Aku putuskan untuk isatirahat sejenak, aku rebahkan tubuhku ke atas dipan (tempat seperti kasur tapi tidak ada kasurnya). Tenaga sudah kembali pulih aku pun langsung naik ke atas rumah mbahku, disana dapat kita jumpai sebuah tempat mandi dari sumber mata air pilihan (Alahhh Lebay...).

“Bbbeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrr!!! Dingin banget air disini .” Gayung demi gayung air aku tumpahkan ke sekujur tubuhku, hingga tubuh menjadi bersih....^_^ Hari pertama ini saya habiskan didalam rumah saja, mungkin karena efek guncangan dari dalam mobil tadi pagi, membuat kepalaku pusing....mual......muntah-muntah......(-_-“ lebay lagi....)

Banyak sanak saudara yang pulang bersamaan, dirumah mbah jadi rame deh.... Senangnya bisa berkumpul besama sanak saudara, dengan segudang kegiatan kerja mereka masing-masing, akhirnya dapat berkumpul bersama-sama “disini”. Seperti biasa saat semua saudara kami berkumpul pasti ada satu hidangan yang tak dapat tidak ada pada saat itu, tapi gk aku sebutin nanti jijik...... (suatu hewan yang diharamkan bagi umat muslim). Udah ya...... hari pertama gk ngapa-ngapain.....

Kita ke hari kedua......

Hari kedua..... adalah maksud kedua dari perjalalan saya dan kami sekeluarga; menghadiri perkawinan salah satu saudara kami yang berada “disana”. Acaranya sangat ramai, yang saya tidak suka dari acaranya adalah hidangannya......bukan karena jenis makanannya, bukan karena rasanya juga....rasanya sihh enak.... Yang gak-ku suka itu....tw gk(blom, kan blom di kasih tau...)(Jahhhhh). Yang gk aku suka tu.... dua hari menunya sama.......mlulu, dan itu, saya selama tiga hari itu terus membantu rewang-rewang, dan klo istirahat tu makannya ya itu juga...... -_-“!
Terus.......dan terus............. berlanjut hingga hari ketiga.....

Hari ketiga pagi-pagi benar saya sudah diajak ke tempat kondangan tersebut.....meski masih ngantuk tapi semua itu langsung saja hilang, setelah menghirup udara pagi yang sejuk, tidak ada asap kendaraan, polusi, dan pencemaran lingkungan lainnya. Yang ada hanya kicauan burung kecil yang hinggap dipohon sambil menyanyikan sebuah lagu ceria pagi hari, embun yang membasahi dedaunan membuat suasanan menjadi sejuk, kabut yang masih menyelubungi pegunungan..... Aduuuuhhhh pokoknya gk bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi deh.... kalau begitu mari kita jaga lingkungan kita, bumi kita, agar anak cucu kita dapat merasakan apa yang kita lihat hari ini....(Yahhhh dia pidato....) hehehe.

Sampai lupa cerita kondangannya, sebenernya saya disana gk ngapa-ngapain....... Cuma disuruh menemani ibu rewang-rewang...hehehe. maklum anak kota gak bisa apa-apa. Saya itu salut banget sama anak-anak disana, mereka masih kecil saja sudah bisa membantu orang tuanya, mulai dari mencuci baju, nyawah, mencari rumput untuk hewan ternaknya, mengasuh adiknya..... padahal umur mereka masih sekitar kelas 3 atau 4 SD....(Wow..wow..). selesai rewang-rewang saya naik “ke atas” untuk mandi, oh ya lupa di tempat permandian itu sudah disediakan tempat/kamar berpetak-petak untuk mandi, “tanpa pintu” (Wow.....Jangan ngeres.....) biasanya orang-orang disana mandinya pakai petelesan (pakai kain, seperti habis mandi; untuk wanita. Untuk pria biasanya mereka memakai celana pendek atau celana dalam).

Usai mandi saya lalu turn ke rumah mbah..... sambil bersantap bersama ditemani televisi dan berkumpul bersama sanak saudara, sungguh nikmat!! Perut sudah kenyang kami melakukan sedikit perbincangan sambil menonton acara di televisi..... Emang punya mata payah tu susah......Gak lama bawaannya pengen tidur......akjirnya aku pun terlelap masuk ke dalam dunia mimpi yang setiap malam selalu aku datangi (selamat tidur...have a nice dream.....)

Pagi yang cerah menyambutku dengan semangat, matahari pagi pagi berusaha membangunkanku dari dunia keduaku, menembus tebalnya kabut pagi yang menyelubungi rumah mbah..... Tak-ku sadari mbah dan ibu ku sudah berada didapur untuk membuat makanan untuk sarapan, dapat terlihat dari atap rumah yang mengeluarkan asap.....(KEBAKARANNNN....!!!!)(bukan kebakaran.....-_-“). Lalu terdengar suara ayahku dari depan rumah....
“Mbang.... Lambang (itulah julukanku dirumah...)”
“Iya......” sahutku
“Ikut bapak ngarit yuk......(mencari rumput)”
“Kemana?” tanyaku bingung
“Udah ikut aja....”

Setelah berpikir dua kali, aku putuskan untuk menerima ajakan ayahku. Perjalanan yang sangat menyenangkan, kami menaiki gunung dengan sejuta panorama yang indah.....sampai kami tiba disebuah jalan setapak yang lumayan sangat sempit yang berada di pinggir tebing dan disebelahnya JURANG yang sangat DALAM~~~~~~ Jantungku langsung berdetak kencang, karena aku juga takut ketinggian.....
“Yakin mesti lewat sini...?” tanyaku untuk meyakinkan tindakan yang akan dilakukan aku dan ayahku.
“Iya.... yakin.....”
“Ya sudahlah kalau begitu” pasrahku dalam batin

Dengan hati-hati kulangkahkan kaki ini kearah jalan setapak tersebut......langkah demi langkah ku perhitungkan dengan baik. Mana lagi pada saat itu habis turun hujan otomatis tanah disana menjadi licin, apalagi konstur tanah yang didominasi dengan batu kapur yang licin......Ohw....
Meski menakutkan sesekali aku tengokkan kepala ku ke arah jurang dan ku dapatkan sebuah pegunungan yang sangat indah, berwarna ungu kebiruan dan masih diselimuti kabut yang samar samar menutupi puncak gunung tersebut.... beberapa menit kami berjalan ditempat itu dan akhirnya sampai diujung jalan..... lega rasanya tapi kecewa juga melewatkan pemandangan yang indah.

Tak lama kami sampai ditempat yang biasanya untuk mencari rumput warga kampung setempat. Emang dasar orang kota motng rumput pake parang aja gk bisa, kalah ni aku sama anak yang kebetulan sedang membantu ayahnya di seberang kami, padahal masih kecil. Memang dapat dibuktikan bahwa: orang kota itu keterampilannya sangat rendah dibandingkan anak desa (malu dah gw....)

Setelah rumput dikira cukup kami pulang melalui jalan yang tadi, lama kelamaan aku jadi terbiasa melawati jalan tersebut, sesampai di rumah saya langsung disuguhkan hidangan yang sangat menggugah selera. Inilah saat yang paling sulit untuk berpisah, disaat aku sudah bisa mulai beradaptasi disana ehhhh malah balik ke bekasi. Ini adalah hari terakhir kami “disana”.

Sore hari kami pulang, satu hal yang membuat aku kesal saat ingin pulang adalah; saya tidak naik bus ehhh malah naik kereta ekonomi, maksud hati ibu saya ingin murah tapi malah repot.... benar saja saat tengah malam sampai di purwokerto gerbong kami diputus disana, dan setelah itu kami tidak mendapatkan kereta ekonomi lagi, akhirnya kita pindah kebisnis malah nambah 100 rb. untuk satu orangnya belum lagi kondisi duduk di bawah.... aku kesel banget, samapi setiap ibu nawarinku sesuatu selalu aku tolak, saking keselnya. Kasihan sihh..... abisnya udah tidur gk bisa banyak orang lewat pula terpaksa aku jadi langkahan orang-orang, sampe ada yang kesandung gara-gara badanku, hihi. Tapi sialnya tanganku jadi keinjek, busettt..... sakit banget....
Namun aku senang mengalami hal tersebut, semuanya itu dapat menjadi suatu pengalaman yang berharga bagiku yang mungkin dapat berguna dikemudian hari.....
Jadi belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah guru yang paling nyata yang dapat menuntun kita, maksudnya nyata itu yang paling benarlah, berbeda dengan omongan. Omongan dapat saja berbohong namun pengalamn pasti tidak akan pernah berbohong. Pengalaman tidak akan menuntun kita pada kegagalan, meski, mungkin kita pernah mendapatkan pengalaman yang buruk. Tapi dari itu semua, akhirnya kita dapat memperbaiki semuanya itu dengan pengalaman yang pernah kita alami, sehingga kita tidak masuk pada lubang sama lagi... Thx.